Tele Electro-Cardiograph: Alat Pendeteksi Detak Jantung

Picture4 Latar Belakang

Berdasarkan data dari WHO angka kematian di Indonesia mencapai lebih dari 225.000 setiap tahunnya yang disebabkan oleh penyakit jantung (http://whqlibdoc.who.int/publications/2011/, diunduh pada 10 Juni 2013).

Penyebab utama dari kematian akibat penyakit jantung ini adalah jumlah kardiolog atau dokter spesialis penyakit jantung yang masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta. Ditambah lagi penyebaran kardiolog yang tidak merata. Para kardiolog ini kebanyakan berpusat di pulau Jawa saja, khususnya di Ibukota Jakarta. Hal ini menyebabkan penanganan pada seseorang yang terkena serangan jantung tidak dapat dilakukan sesegera mungkin. Belum lagi pendeteksian awal dari gejala penyakit jantung ini pun sangat minim dilakukan. Lagi-lagi dikarenakan jumlah kardiolog di Indonesia yang jauh dari cukup.

Metode

  • Untuk mengatasi akurasi dan media komputasi, akan digunakan media komputasi berupa hardware khusus EKG dan USG yang telah dibangun pada penelitian sebelumnya (W. Jatmiko dkk, 2011).
  • Untuk mengatasi masalah besarnya transmisi data dan daya baterai yang tinggai, maka digunakan metode kompresi berkas gambar dengan SPIHT yang dikembangkan sendiri oleh para peneliti di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia(S.M. Isa dkk, 2012).
  • Pada masalah keamanan data yang akan dikirimkan, digunakan metode Advanced Encryption Standard (AES), SPIHT, dan PSO yang telah terbukti kehandalannya dalam pengamanan data.

Hasil

Prototipe alat pendeteksi detak jantung.

Picture5